Hotel butik terbaru dari Artotel Group ini menawarkan pengalaman menginap yang lebih dari sekadar tempat beristirahat. Dari karya seni kontemporer hingga kolam renang air hangat di rooftop, ARTOTEL Wanasaba membawa sentuhan gaya hidup modern ke kota yang dikelilingi lanskap pegunungan.
Wonosobo punya daya tarik yang sulit ditolak. Udara sejuk, lanskap hijau, dan siluet pegunungan yang mengiringi keseharian kota menghadirkan suasana yang berbeda dari hiruk-pikuk kota besar. Kini, pengalaman menikmati kawasan ini mendapat pilihan baru dengan kehadiran ARTOTEL Wanasaba, hotel butik yang memadukan akomodasi modern, seni, gastronomi, dan wellness dalam satu destinasi.
Mulai beroperasi pada 14 Oktober 2026, hotel yang berlokasi di Jalan A. Yani No. 112, Wonosobo, ini diresmikan oleh Bupati Wonosobo Afif Nur Hidayat. Acara tersebut turut dihadiri Direktur PT Kreasi Lancar Makmur (PT KLM) Anditya Wibawa dan Chief Operating Officer Artotel Group Eduard Rudolf Pangkerego.
Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine
Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto
Kolaborasi Artotel Group dan PT KLM ini menghadirkan konsep hospitality yang berupaya menyatukan kenyamanan menginap dengan karakter lokal. Hasilnya adalah sebuah ruang yang tidak hanya dirancang untuk wisatawan, tetapi juga untuk mereka yang ingin menikmati seni, bersantai sambil menikmati kopi, atau mengadakan pertemuan dalam suasana yang lebih berkarakter.
Sentuhan Seni dalam Ruang Kontemporer
Di ARTOTEL Wanasaba, seni bukan sekadar elemen dekoratif yang melengkapi interior. Karya seni menjadi bagian dari identitas ruang, memberikan karakter sekaligus menghadirkan pengalaman visual bagi para tamu.
Hotel ini mengusung desain modern minimalis dengan sentuhan artistik melalui karya dua seniman asal Yogyakarta, Wisnu Ajitama dan Indo B. Satria. Karya keduanya tersebar di sejumlah area, mulai dari ruang publik hingga kamar tamu.
Inspirasi alam, terutama hutan, menjadi salah satu benang merah dalam pendekatan artistik tersebut. Filosofi Tree Ring Dating, yang membaca usia pohon melalui lingkaran pertumbuhannya, turut menghadirkan gagasan tentang waktu, lapisan pengalaman, keterhubungan, dan warisan yang terbentuk secara bertahap.
Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi